posted by: kafast
Aku telah dikecup kebahagian selama menjadi bagian dari mereka. Asterivius. Kelas yang luar biasa hidup dan tidak akan pernah tergantikan.
Baiklah, ini mungkin catatan perjalanan yang kutulis secara singkat dengan versi tanpa gaya-gayaan.
Juli 2009
Banyak hal yang kusadari menjelang pra-MOS. Pertama, aku sadar segala mental telah kupersiapkan dengan baik. Kedua, aku sadar aku diterima di SMANSA. Ketiga, aku sadar aku lupa perjalanan ke Cianjur berapa jam.
Terakhir, aku saaadar.. aku benar-benar lupa lokasi SMANSA di mana :’(
Aku berangkat pagi hari, sendiri, dengan tidak sepenuh hati. Takut diculik, tapi perjalanan tetap kujalani. Kau kan tahu, segala mental telah kupersiapkan dengan baik! Dulu sebelum lebaran, aku juga pernah jalan-jalan ke Cianjur. Buktinya sekarang aku tahu ongkos angkot berapa. Hiahaha. Sip!
Aku naik angkot putih dan turun di Jebrod lalu naik 2B. Tapi di sinilah letak masalahnya, aku nggak tahu kapan aku harus menyetop angkot merah ini. Mana di sepanjang jalan nggak ada plang yang nunjukin lokasi SMANSA! Ergh!!!
“Mang, turun di SMA 1, yak!”
“Siap, Neng!” katanya.
Ah, jenius! Kenapa nggak dari tadi aja sih? Aku menghela nafas lega. Aku akan selamat di tangan sopir angkot. Dalam hati aku membangga-banggakan sekolahku. Siapa sih yang nggak tahu SMANSA? Mungkin cuma aku doang yang baru-baru ini tahunya. Ckck. Kurang gaol.
Tak lama 2B pun berhenti.
“Loh kenapa di sini, Mang?”
“Ini sekolahnya?”
“Bukan, Mang!”
Boleh jadi aku lupa letaknya, tapi aku ingat betul bagaimana bentuk gerbangnya. Dan aku bersikeras membantah kalau ini bukan sekolahku.
“Bukan?”
“Maksud Eneng SMA 1, Maaaaaaaaanggg!! SMA 1!!!” jeritku gemas ketika menyerahkan seribu perak, “Bukan SMK 1…..!!!!”
Tanpa merasa bersalah si Amang malah ngeloyor pergi diteriaki begitu, meninggalkan aku sendirian yang terbengong-bengong dan nyaris dicium mulut Vario. Aku menyingkir ke pinggir jalan. Kesal.
Sumpah, tuh sopir angkot kurang gaol! Masa nggak tahu sih, SMANSA dimana??? Aku menggerutu mati-matian. Di samping Toserba, kulihat pengamen jalanan yang saat itu sedang berjingkrak-jingkrak kejatohan receh.
“Eh, De, tahu SMA 1?”
“SMA 1? Ng.. SMANSA, Teh? Oh, di luhur! Mapay jalan eta we, tah!”
“….” Mungkin aku harus melangkahkan kakiku yang malang ini sepanjang trotoar yang permukaannya tidak rata alias turun naik. “Makasih, Yaaaahh!”
Yak, jadilah aku melakukan perjalanan sendirian lagi. Berapa meter jauhnya, aku juga nggak tahu. Lihat, siapa yang gaol sebenarnya! Sopir angkot yang sok tahu atau adik-adik tukang ngamen yang jingkrakannya mirip vampir kacugak?
Hampir sampai. Aku menarik nafas saking capeknya.... tapi bahagia. Kulihat seorang ibu-ibu yang membawa keranjang turun dari angkot. Sialan. Ada angkot lewat jalur ini, kenapa tukang ngamen menyuruhku mapay jalan?!!
Kutengok angka digital di pergelangan tanganku tatkala sampai di gerbang berbahan besi hollow itu. 07:55. Aku berjalan tenang, tenaaaang sekali.
Kulirik sekali lagi satpam berbalut seragam putih biru itu sambil tersenyum kenes. Satpam malah balik menatapku curiga. Tapi yang menghampiriku malah tukang basotahu.
“Aeeeh, Neng! Dikantong atau dipiring?”
“Apanya, Pak?”Aku berpikir, mungkin orang berpeci kumal ini lebih-lebih nggak gaol dari si sopir.
“Basotahu-na. Dikantong atau dipiring?”
“Ahah. Nggak ah, Pak. Ini mau ke sekolah. Calon murid baru, saya,” seruku bangga seraya berpikir lagi. Hari gini manggil tukang basotahu kayak manggil Bapak Bupati?? Mampus!
“Murid baru?”
“Ya!”
“Hooor, murid baru? Kunaon henteu tatadi? Ayeuna jam sabaraha?!”
Kenapa aku ditanya-tanya begini? Akh! Ini kapan masuk mau sekolahnya sih? Dengan nada tetap ceria.. kujawab, “Jam delapan.”
“Tuh, eta gening apal. Ti saacan jam tujuh ge anak-anak udah pada baris di lapangan.”
Mendengarnya, keceriaanku sirna. Aku telat sekolah pada hari pertama masuk sekolah? Oh my, my.. Tapi yang keluar sebagai respon adalah, “Hah?? Beneran, Pak?!!!!!”
“Heu-euh! Teu percaya mah, jig we tingali—”
Sebelum tukang basotahu menyelesaikan kalimatnya, aku sudah JIG!! Pontang-panting menapakan kaki ke lapangan upacara. Aku dikumpulkan bersama orang-orang yang telat juga di barisan paliiiiiiiing ujung.
Ternyata bukan aku saja yang telat! Ahahaha. Yak, mungkin mereka telat semenit dua menit, lain halnya dengan aku yang jelas akan dipenggal hidup-hidup selesai upacara. Kak Saeful pun berdehem maklum.
“Dari rumah jam berapa?”
“Jam tujuh, Kak.”
“Kebiasaan SMP jangan diulang!”
“Kebiasaan SMP setengah delapan, Kak.”
“Lain kali berangkat jam setengah enam!”
“Iya, Kak.”
“Nggak boleh telat lagi!”
“Iya, Kak.”
“Habis ini kumpulin sampah yang banyak!”
“Iya, Kak.”
“Bagus.”
Aku tercengang. Tidak bisa meralat jawaban refleks tadi.
Setelah mendapat teguran dari kakak-kakak senior, mereka mengumpulkan sampah-sampah berupa kemasan roti, akua, plastik bekas, cangkang oreo, sampai tusuk baslub.. ke dalam kantong kresek yang bergelayut pada lengan masing-masing. Aku sendiri malah sibuk memperhatikan polah mereka hingga sampah-sampah di lapangan ludes! Sial. Aku nyomot apaan dong, kalau gitu?
Kuraih daun-daun kering di sekitar kopsis. Ah, aku memang tidak berbakat menjadi pemulung.
Bersama Asterivius, aku memperkenalkan diri dengan tukar-tukar biodata. Biodataku dibacakan di depan kelas oleh Sonya Vieska—yang belakangan ini aku tahu bahwa dia tidak hanya cantik, melainkan calon Miss Universe.
Dan secarik kertas berwarna biru dongker milik seseorang juga sedang kupegang. Aku baru saja akan membacakan biodatanya saat laki-laki setengah botak tiba-tiba menghampiriku. Tanpa bicara sepenggal dua penggal kata, ia membungkuk di depan mejaku, menghapus serangkaian kalimat yang tadinya acak, lalu menggantinya menjadi lebih acak. Aku bengong.
Saat berdiri di depan kelas, aku memperhatikan seksama tulisan yang lebih mirip dengan tulisan adikku di rumah. Adikku baru kelas 1 SD loh. Ini kelas 1 SMA? Terpaut jauh, ya?
Karena teman-teman sudah menunggu di titik hening, kutepis saja rasa malasku dengan membacanya sotoy.
“Nama lengkap.. Endinau Fa eL (kuteliti lagi, seharusnya Andi Naufal). Hobi baca komik. Ciri-ciri.. kulit sawo matang, ada luka bekas kecalakaan di lutut (ya ampun!), hidung mancung, paling gant—“ Paling ganteng? Kulihat wajahnya sekali lagi. Whoahaha. Nggak yakin.
Aku bingung. Nggak banyak orang yang kukenal di sini selain Santi teman sebangkuku kini, Kani teman SMP, Sonya yang berbaik hati membacakan biodataku dengan suara rendah, Endinau Fa eL yang kenarsisannya sedang naik daun, dan Damma Rachmansyah yang kudengar ciri-cirinya : cameuh. Selebihnya aku nggak tahu siapa mereka.
Dan besoknya, perjuangan pun dimulai. Kau tahu tidak, untuk hari pertama MOS aku INGAT dimana letak SMANSA. Ayey. Hanya saja selama seminggu ini aku harus berangkat jam lima pagi. Jam segitu mana ada angkot di Cibeber?
Pada akhirnya aku jadi penumpang ojek dan ngeluarin ongkos lima belas ribu. Kalau tukang ojek nggak punya helm, sih, aku bisa menawar ongkos menjadi sepuluh ribu. Saat itu aku berharap semoga semua tukang ojek Cibeber kehilangan helmnya.
Dengan kalung permen, papan nama kacrut, dan segala tetek bengeknya, aku duduk di jok belakang dan kejengkang-kejengkang karena tukang ojek kusuruh ngebut.
Ah, tak terasa perjalanan yang menggigil itu sudah kulakukan tiga hari hingga kini. Setiap harinya aku sampai di sekolah tak lebih dari pukul enam.
Tugas yang menyebalkan. Menulis pesan untuk kakak senior sebanyak sepuluh lembar?
B a y a n g k a n ! Betapa pegalnya tangan kami.
Andi menulis satu kata di setiap lembarnya. Berarti dalam sepuluh lembar ia berhasil mengumpulkan sebuah kalimat :
kakak—senior—pada—baik—kecuali—yang—menyuruhku—menulis—pesan—ini
Tidak lama setelah buku dikumpulkan, pipi Andi digampar.
Senin, 07 Maret 2011
Masa-masa MOS
Diposting oleh
asterivius seeker
di
14.31
Label: sehari-hari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar